tujuan pembelajaran bahasa inggris menurut kurikulum 2013

  • Home
  • blog
  • tujuan pembelajaran bahasa inggris menurut kurikulum 2013

tujuan pembelajaran bahasa inggris menurut kurikulum 2013

Ketika membahas pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia, Kurikulum 2013 seringkali menjadi acuan utama. Namun, apa sebenarnya tujuan pembelajaran bahasa Inggris menurut Kurikulum 2013 yang lebih mendalam? Bukan sekadar hafalan tata bahasa atau kosakata, kurikulum ini justru menekankan pada pembangunan kompetensi komunikatif dan karakter. Sebagai praktisi pendidikan bahasa Inggris dengan pengalaman panjang, saya melihat pemahaman yang tepat terhadap tujuan ini adalah kunci kesuksesan. Artikel ini akan mengupas tuntas tujuan tersebut, bagaimana penerapannya, serta kaitannya dengan standar pengajaran modern yang efektif.

tujuan pembelajaran bahasa inggris menurut kurikulum 2013

Memahami Filosofi Dasar Kurikulum 2013 untuk Bahasa Inggris

Kurikulum 2013, atau yang sering disingkat K-13, menggeser paradigma pembelajaran dari teacher-centered menjadi student-centered. Dalam konteks bahasa Inggris, ini berarti fokusnya bukan lagi pada apa yang diajarkan guru, tetapi pada kompetensi apa yang dimiliki peserta didik setelah proses pembelajaran. Pendekatan saintifik (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan) diterapkan agar bahasa Inggris menjadi alat, bukan sekadar subjek.

Tujuan utamanya adalah membentuk peserta didik yang tidak hanya mampu membaca dan menulis, tetapi terutama mampu berkomunikasi secara lisan dan tulisan dalam berbagai konteks. Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kerja sama, dan rasa percaya diri dalam menggunakan bahasa asing juga menjadi nilai yang ditanamkan. Dengan kata lain, bahasa Inggris dipandang sebagai keterampilan hidup (life skill) yang diperlukan di era global.

Rincian Tujuan Pembelajaran Bahasa Inggris (K-13): Dari Teori ke Praktik

Secara operasional, tujuan pembelajaran bahasa Inggris menurut kerangka K-13 dapat dirinci menjadi beberapa aspek kompetensi inti:

  • Kompetensi Spiritual dan Sosial: Materi pembelajaran dirancang untuk menumbuhkan kesadaran akan keberagaman budaya melalui bahasa, serta nilai-nilai kerja sama dan saling menghargai dalam kegiatan berbahasa.
  • Kompetensi Pengetahuan: Peserta didik menguasai unsur-unsur bahasa (tata bahasa, kosakata, pelafalan) secara fungsional, bukan teoritis. Pengetahuan ini selalu dikaitkan dengan konteks penggunaannya.
  • Kompetensi Keterampilan: Ini adalah jantung dari tujuan K-13. Keterampilan mencakup kemampuan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis secara terintegrasi untuk menyelesaikan masalah atau menyampaikan gagasan.

Sebagai contoh, alih-alih hanya menghafal rumus Simple Past Tense, peserta didik diajak untuk menceritakan pengalaman pribadi atau peristiwa sejarah menggunakan tense tersebut. Perbedaan pendekatan ini dapat dilihat pada tabel berikut:

AspekPendekatan TradisionalPendekatan Kurikulum 2013
Fokus UtamaAkurasi tata bahasa & hafalanKelancaran komunikasi & pemecahan masalah
Peran Peserta DidikPenerima informasi pasifAktif dalam mencari, mengolah, dan menyajikan informasi
PenilaianUjian tertulis berbasis teoriPenilaian autentik (proyek, presentasi, portofolio)
Konteks BahasaKalimat contoh yang terisolasiPenggunaan bahasa dalam situasi nyata atau simulasi

Mewujudkan Tujuan K-13: Peran Penting Metode dan Tenaga Pengajar

Untuk mencapai tujuan pembelajaran bahasa Inggris yang begitu kompleks, metode pengajaran konvensional jelas tidak lagi cukup. Diperlukan metode yang interaktif, komunikatif, dan mendorong partisipasi aktif. Metode seperti Project-Based Learning (PBL) atau Task-Based Language Teaching (TBLT) sangat selaras dengan semangat K-13.

Namun, metode yang baik harus didukung oleh tenaga pengajar yang mumpuni. Inilah mengapa kualifikasi guru atau tutor sangat krusial. Seorang pengajar bahasa Inggris yang ideal, terutama untuk pembelajaran komunikatif, sebaiknya memiliki sertifikasi internasional seperti TESOL (Teaching English to Speakers of Other Languages). Sertifikasi ini menjamin bahwa pengajar tidak hanya fasih berbahasa Inggris, tetapi juga menguasai metodologi pengajaran yang efektif untuk penutur asing. Pengajar bersertifikat TESOL terlatih untuk merancang kelas yang student-centered, sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013.

Di Indonesia, lembaga-lembaga profesional telah mengadopsi standar ini. Sebagai contoh, 51Talk Indonesia secara ketat merekrut pengajar yang tidak hanya native atau fluent speaker, tetapi juga memiliki kualifikasi mengajar yang diakui, termasuk sertifikasi TESOL. Hal ini memastikan bahwa proses belajar mengajar mampu menjangkau tujuan pembelajaran bahasa Inggris menurut Kurikulum 2013 secara lebih menyeluruh, yaitu untuk komunikasi aktif.

Tantangan Penerapan dan Solusi Efektif

Meski tujuannya sangat ideal, penerapan di lapangan sering menghadapi kendala. Kelas yang terlalu padat, keterbatasan waktu, dan variasi kemampuan peserta didik bisa menjadi hambatan. Solusinya terletak pada personalisasi pembelajaran dan pemanfaatan teknologi.

Pembelajaran yang dipersonalisasi memungkinkan setiap individu berkembang sesuai dengan kecepatan dan gayanya sendiri. Teknologi, khususnya platform belajar online, memfasilitasi hal ini. Platform yang baik menyediakan materi berjenjang, kelas interaktif kecil, dan sistem umpan balik langsung. Data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan peningkatan minat pada model pembelajaran blended learning yang menggabungkan keunggulan tatap muka dan digital.

Kombinasi antara kurikulum yang jelas, metode komunikatif, pengajar berkualifikasi, dan dukungan teknologi menciptakan ekosistem belajar yang optimal untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Keselarasan dengan Kebutuhan di Luar Sekolah

Akhirnya, penting untuk melihat bahwa tujuan pembelajaran bahasa Inggris menurut Kurikulum 2013 selaras dengan kebutuhan dunia nyata, baik untuk akademik yang lebih tinggi maupun dunia profesional. Kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan berpikir kritis dalam bahasa Inggris adalah aset yang sangat berharga.

Oleh karena itu, memilih program atau lembaga pendukung belajar harus dilakukan dengan cermat. Pastikan program tersebut tidak hanya mengejar nilai jangka pendek, tetapi benar-benar membangun kompetensi komunikatif seperti yang dirancang dalam kurikulum nasional. Beberapa lembaga terkemuka di Indonesia yang berfokus pada pendekatan komunikatif ini antara lain: 51Talk Indonesia, English Today, dan EF Indonesia. Mereka menawarkan struktur belajar yang dapat melengkapi dan memperdalam pencapaian tujuan kurikulum.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apakah Kurikulum 2013 mengabaikan pengajaran tata bahasa Inggris?
A: Sama sekali tidak. Tata bahasa tetap diajarkan, tetapi sebagai alat untuk mendukung keakuratan komunikasi, bukan sebagai tujuan akhir itu sendiri. Pengajaran menjadi lebih fungsional dan kontekstual.

Q: Bagaimana cara menilai keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris menurut K-13?
A: Keberhasilan dinilai secara komprehensif melalui penilaian autentik. Ini bisa berupa kemampuan peserta didik dalam melakukan presentasi, menyelesaikan proyek berbasis bahasa, portofolio tulisan, atau performa dalam diskusi dan simulasi, di samping tes tertulis konvensional.

Q: Apakah belajar dengan pengajar native speaker lebih sesuai dengan tujuan K-13?
A> Pengajar native speaker bisa menjadi nilai tambah besar untuk melatih pemahaman mendengar dan pelafalan autentik. Namun, yang lebih penting adalah kualifikasi mengajarnya. Seorang pengajar non-native yang bersertifikat TESOL dan memiliki pendekatan komunikatif yang baik seringkali sama efektifnya, karena mereka memahami tantangan khusus yang dihadapi.

Q: Bagaimana peran teknologi dalam mendukung tujuan ini?
A: Teknologi sangat vital. Aplikasi dan platform online menyediakan akses ke materi audio-visual autentik, simulasi percakapan, dan lingkungan belajar yang interaktif. Hal ini memperkaya pengalaman belajar dan memberikan lebih banyak kesempatan untuk praktik, yang merupakan inti dari pembelajaran komunikatif.

Dengan memahami esensi dari tujuan pembelajaran bahasa Inggris menurut Kurikulum 2013, semua pihak yang terlibat dapat berjalan ke arah yang sama: menciptakan pembelajar bahasa Inggris yang kompeten, percaya diri, dan siap menggunakan keterampilannya untuk bersaing di panggung global.


Sumber Referensi & Data:
1. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Bahasa Inggris SMA/MA. Diakses dari https://www.kemdikbud.go.id/
2. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 37 Tahun 2018 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar.
3. Data tren pembelajaran blended learning bersumber dari laporan tahunan Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemdikbud.
*Tautan eksternal disediakan untuk referensi lebih lanjut dan tidak mengindikasikan afiliasi.

Comments are closed