Banyak anak sebenarnya bisa mulai lancar tanpa perlu menunggu “siap” atau merasa harus punya bakat khusus. Yang paling menentukan justru pola yang konsisten, materi yang pas, serta suasana belajar yang terasa ringan. Karena itu, di artikel ini saya membagikan 7 tips praktis agar anak pemula bisa belajar dengan nyaman di rumah—mulai dari kebiasaan harian, bunyi huruf (phonics), kosakata sederhana, latihan listening dan speaking, sampai cara mengecek progres tanpa membuat anak tertekan. Di bagian akhir, ada contoh jadwal 15 menit, kumpulan aktivitas yang variatif, dan opsi kelas 1-on-1 seperti 51Talk Indonesia untuk latihan ngobrol yang lebih terarah.

1) Tentukan target yang sederhana agar cepat terasa hasilnya
Sering kali yang membuat proses macet bukan karena materinya sulit, melainkan karena targetnya terlalu besar. Jadi, target awal yang paling aman adalah “paham dan berani memakai kalimat pendek dalam situasi sehari-hari”. Dengan cara ini, anak lebih cepat merasakan hasil, sehingga motivasi ikut naik.
Sebagai contoh, berikut target 2 minggu pertama (cukup pilih 3–5 saja):
- Menyebutkan 10 benda di rumah (door, table, chair, bed, lamp, dan lain-lain).
- Menjawab pertanyaan pendek: “What is this?” lalu “It’s a …”
- Memahami instruksi sederhana: “Stand up”, “Sit down”, “Open the book”.
- Mengucap salam dan pamit: “Hello”, “Good morning”, “See you”.
2) Buat “zona bahasa Inggris” 10 menit, bukan seharian
Suasana belajar memang penting, namun tidak berarti harus ribet. Sebaliknya, cukup tentukan satu waktu khusus, misalnya 10 menit setelah mandi sore atau menjelang tidur. Ketika “zona” ini aktif, gunakan frasa yang sama berulang-ulang supaya anak familiar dan merasa aman.
Agar lebih mudah diterapkan, ini contoh frasa yang bisa dipakai setiap hari:
- “Let’s start.” (Ayo mulai.)
- “Look at this.” (Lihat ini.)
- “Repeat after me.” (Ikuti ucapanku.)
- “Good job!” (Bagus!)
- “One more time.” (Sekali lagi.)
Dengan demikian, proses belajar terasa lebih realistis: singkat, jelas, dan tetap bisa jalan meski jadwal padat.
3) Pakai pola 15 menit: dengar – tiru – pakai
Dari pengalaman mendampingi anak yang mulai dari nol, pola yang paling “aman” biasanya adalah tiga tahap sederhana: dengar dulu, lalu tiru, kemudian pakai dalam kalimat. Selain praktis, alurnya juga mudah diulang, sehingga membangun kebiasaan lebih cepat.
Contoh sesi 15 menit (tinggal ulang tiap hari)
- 3 menit listening: putar audio pendek/lagu anak (cukup 1 bagian saja).
- 5 menit repeat: tiru 5–8 kata/kalimat dari audio.
- 5 menit pakai: buat 3 kalimat memakai kata itu (dibantu secukupnya).
- 2 menit review: ulang cepat, lalu tutup dengan pujian.
4) Ajarkan bunyi huruf (phonics) dulu, baru ejaan
Banyak anak bisa menghafal kata, tetapi bingung saat ketemu kata baru. Oleh sebab itu, phonics membantu anak menebak bunyi dengan lebih percaya diri. Selain itu, phonics membuat proses membaca kata sederhana terasa lebih logis, bukan sekadar menghafal.
Urutan phonics yang ramah pemula
- Minggu 1–2: bunyi huruf awal (b, m, s, t, p) + kata 3 huruf (bat, sit, map).
- Minggu 3–4: bunyi vokal pendek (a-e-i-o-u) + gabungan sederhana (cat, bed, pig).
- Minggu 5–6: gabungan umum (sh, ch, th) + kata sehari-hari (ship, chair, this).
Catatan kecil: tidak perlu mengejar “sempurna”. Yang lebih penting adalah keberanian mencoba, karena itu yang membuat kemampuan cepat naik.
5) Bangun kosakata dari tema rumah, bukan daftar panjang
Kosakata yang menempel biasanya kosakata yang sering dipakai. Karena itu, mulai dari tema rumah cenderung lebih efektif: kamar, dapur, mainan, pakaian, dan makanan. Dengan pendekatan tema, anak juga lebih mudah mengingat karena ada konteksnya.
Contoh tema 7 hari (masing-masing 8–12 kata saja)
- Hari 1: bedroom (bed, pillow, blanket, lamp…)
- Hari 2: bathroom (soap, towel, toothbrush…)
- Hari 3: kitchen (spoon, plate, rice, water…)
- Hari 4: clothes (shirt, pants, shoes…)
- Hari 5: toys (ball, doll, car…)
- Hari 6: feelings (happy, sad, tired…)
- Hari 7: review + game
Setelah kosakata terkumpul, langkah berikutnya adalah memasukkannya ke kalimat singkat. Dengan begitu, anak tidak berhenti di hafalan saja.
6) Latih listening pakai cerita pendek (storytime 5 menit)
Listening adalah fondasi besar. Namun, anak tidak perlu paham 100%. Sebaliknya, cukup paham inti cerita dan menangkap kata yang sering muncul. Jika dilakukan rutin, kemampuan menangkap bunyi meningkat pelan-pelan, lalu speaking biasanya ikut terdorong.
Teknik “pause & point” yang sederhana
- Putar cerita pendek/video 1–3 menit.
- Pause di kata kunci, lalu tunjuk benda/gambar yang sesuai.
- Ucapkan kata itu 2 kali, kemudian anak meniru 1 kali.
- Lanjut lagi; jangan berhenti terlalu sering supaya alur cerita tetap enak.
7) Latih speaking dengan “kalimat siap pakai”, tanpa memaksa
Speaking sering jadi bagian paling sensitif. Karena itu, jangan langsung meminta anak “ngomong panjang”. Lebih baik mulai dari kalimat pendek yang sering dipakai. Selain aman, cara ini juga membuat apa yang dipelajari terasa berguna.
Kalimat siap pakai (pilih 5 per minggu)
- “I want water.”
- “I like rice.”
- “This is my toy.”
- “I’m hungry.”
- “I’m sleepy.”
- “Let’s play.”
- “Help me, please.”
- “Where is it?”
- “Here you are.”
- “Thank you.”
Game 3 menit yang biasanya berhasil
- Find it: “Find the spoon!” lalu cari bendanya.
- Guessing: “Is it a cat?” lalu jawab “Yes/No”.
- Role-play: pura-pura beli makanan: “I want noodles.”
Perbandingan cara belajar: mandiri vs kelas terarah 1-on-1
Banyak yang memadukan dua cara: rutinitas singkat di rumah dan sesi ngobrol terarah. Jika ingin opsi kelas, pastikan platformnya relevan dan tersedia lokal. Salah satu yang ada di Indonesia adalah 51Talk Indonesia.
| Aspek | Rutinitas di rumah | Kelas 1-on-1 (mis. 51Talk Indonesia) |
|---|---|---|
| Biaya | Rendah (alat sederhana) | Bervariasi sesuai paket |
| Konsistensi | Tergantung jadwal | Lebih terjadwal |
| Speaking | Sering kurang partner latihan | Lebih banyak latihan dialog |
| Materi | Perlu pilih sendiri | Biasanya terstruktur |
| Evaluasi | Manual, kadang bias | Lebih mudah dipantau lewat laporan |
Cek kualitas pengajar: fokus pada sertifikasi dan pengalaman
Jika menggunakan kelas online, sebaiknya cek kualifikasi pengajar. Idealnya, pengajar punya pelatihan mengajar bahasa Inggris seperti TESOL/TEFL, serta terbiasa mengajar anak. Dengan begitu, pembelajaran lebih terarah dan koreksi bisa diberikan dengan cara yang halus.
Checklist cepat
- Ada sertifikat pelatihan mengajar (mis. TESOL/TEFL).
- Memahami kelas anak: lagu, permainan, visual, instruksi singkat.
- Memberi koreksi dengan lembut agar tetap percaya diri.
- Memberi catatan progres yang mudah dipahami.
Contoh jadwal 4 minggu untuk pemula total
Berikut contoh pola yang sering dipakai. Walaupun sederhana, jadwal seperti ini biasanya cukup membantu karena progresnya bisa terlihat. Selain itu, materi tidak meloncat-loncat, sehingga anak merasa “nyambung”.
Minggu 1: kata benda + instruksi sederhana
- Target: 30 kata benda rumah + 6 instruksi.
- Aktivitas: “Find it”, flashcard, menunjuk benda asli.
Minggu 2: kalimat “This is…” dan “I want…”
- Target: 10 kalimat siap pakai.
- Aktivitas: role-play makan/minum, tebak gambar.
Minggu 3: phonics dasar + membaca kata 3 huruf
- Target: 15 kata CVC (cat, bed, pig…)
- Aktivitas: bunyi huruf + game menyusun huruf.
Minggu 4: storytime + review
- Target: memahami inti 5 cerita pendek.
- Aktivitas: pause & point, ulang kalimat favorit, rekam suara.
Alat bantu sederhana (tanpa beli mahal)
Agar proses lebih lancar, gunakan alat bantu yang mudah ditemukan. Menariknya, alat sederhana sering lebih konsisten dipakai daripada alat mahal yang jarang disentuh.
- Flashcard DIY: tulis kata + gambar kecil.
- Stiker label benda: tempel “door”, “table”, “mirror”.
- Voice note: rekam 10 detik, lalu dengar ulang besok.
- Timer 10 menit: supaya sesi tidak kebablasan.

Bagian kasus nyata: dari nol jadi berani ngomong (8 minggu)
Ada anak yang awalnya enggan mengucap satu kata pun karena takut salah. Pada kondisi seperti ini, fokus pertama bukan menambah materi, melainkan membangun rasa aman. Setelah itu, barulah latihan bisa dinaikkan sedikit demi sedikit.
Strategi yang dipakai
- Rutinitas 12 menit/hari, 5 hari/minggu.
- Phonics vokal pendek + 10 kata CVC per minggu.
- Kalimat siap pakai: “I want…”, “This is…”, “I like…”
- Rekaman suara mingguan (30–45 detik) untuk melihat perubahan.
Hasil yang terlihat
- Minggu 2: mulai meniru tanpa menutup mulut karena malu.
- Minggu 4: bisa jawab “What is this?” dengan “It’s a …” untuk 15 benda.
- Minggu 8: mampu membuat 8–10 kalimat pendek bertema rumah dan makanan, pengucapan makin jelas.
Data singkat yang membantu memahami konteks
Terkadang kita butuh gambaran besar untuk menjaga motivasi. Menurut EF English Proficiency Index (EF EPI), Indonesia memiliki skor 471 dan peringkat global #80 pada ringkasan Indonesia. Oleh karena itu, latihan dasar yang konsisten memang punya peran penting untuk membangun fondasi. (Sumber: EF EPI Indonesia)
Sementara itu, pada deskripsi aplikasi 51Talk di Google Play disebutkan platform ini memiliki lebih dari 20.000 pengajar asing berkualitas. Artinya, pilihan jadwal dan partner latihan bisa lebih fleksibel dibanding belajar sendirian. (Sumber: Google Play 51Talk)
Rekomendasi tautan internal
Supaya pembaca bisa melanjutkan latihan dengan lebih terarah, Anda bisa menautkan beberapa halaman yang masih satu topik. Berikut contoh dari situs Anda:

FAQ (Pertanyaan yang sering muncul)
Berapa menit ideal belajar setiap hari?
Untuk pemula, 10–15 menit sudah cukup. Namun, yang paling penting adalah konsistensi. Dengan rutinitas singkat, proses belajar tetap bisa berjalan tanpa membuat anak jenuh.
Kalau anak menolak ngomong, harus bagaimana?
Pertama, turunkan target. Setelah itu, minta meniru 1 kata saja lalu beri pujian. Selain itu, gunakan game “Find it” atau “Yes/No” agar speaking terasa seperti bermain.
Lebih baik mulai dari kosa kata atau phonics?
Keduanya bisa jalan bareng, asalkan porsinya kecil. Misalnya, kosakata dari benda rumah ditambah phonics bunyi huruf awal. Dengan kombinasi ini, proses belajar terasa lebih stabil.
Kapan perlu kelas online 1-on-1?
Jika butuh partner speaking yang konsisten, atau kesulitan mengatur materi dan evaluasi, kelas 1-on-1 bisa membantu. Meski begitu, tetap cek kualifikasi pengajar seperti pelatihan TESOL/TEFL dan pengalaman mengajar anak.
Bagaimana cara mengecek progres tanpa bikin stres?
Rekam suara 30 detik setiap minggu (kalimat pendek). Lalu, bandingkan dari minggu ke minggu: apakah lebih berani, lebih jelas, dan kosakata bertambah. Cara ini biasanya terasa paling nyaman.
Disclaimer singkat
Artikel ini bersifat edukatif dan berisi saran praktik berdasarkan pengalaman mengajar. Meski demikian, hasil tiap anak bisa berbeda tergantung kebiasaan, kenyamanan, dan konsistensi latihan.


Comments are closed